G84ZfvXDavQthZPop1Ug7Yfm86ah7XVSYx5hlMli

Bangun Tidur Siang Atau Pagi Bukan Jaminan Hidup Sukses

Nasihat kuno mengajarkan pentingnya bangun pagi jika ingin sukses dan kaya. Bangun kesiangan bisa membuat rezeki hilang karena sudah diambil orang. Sejak kecil, sebagian besar orang Indonesia dididik orangtuanya untuk bengun pagi lebih awal.

Gambar Hanya Ilustrasi

Nasihat kuno mengajarkan pentingnya bangun pagi jika ingin sukses dan kaya. Bangun kesiangan bisa membuat rezeki hilang karena sudah diambil orang. Sejak kecil, sebagian besar orang Indonesia dididik orangtuanya untuk bengun pagi lebih awal.

Kebanyakan orang yang berhasil dan sukses dalam bisnis ataupun karier mengaku bahwa mereka selalu bangun pagi.

Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Russel Foster, seorang peneliti ilmu neuro mengatakan, riset membuktikan bahwa bangun pagi memang membuat Anda lebih produktif, tetapi bukan jaminan Anda mudah menjadi kaya dan sukses.

Dia mengungkapkan menjadi kaya tidak berhubungan dengan waktu Anda bangun tidur, tetapi lebih kepada kemampuan bersosialisasi dan komunikasi.

Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa orang yang membiasakan bangun pagi punya gaya hidup yang lebih sehat. Mereka cenderung terhindar dari depresi, membuat standar yang lebih tinggi pada diri sendiri, dan lebih banyak merencanakan masa depan. Mereka adalah pribadi yang gigih dan percaya diri.

Meski demikian bukan berarti pelaku bangun siang adalah orang-orang dengan kualitas diri yang berkebalikan. Alih-alih bersifat hitam-putih, kebiasaan bangun pagi maupun bangun siang sebenarnya mengandung manfaat positifnya masing-masing. Sejumlah akademisi telah menghasilkan riset yang membuktikan hal tersebut.

Franzis Preckel dari Universitaat Trier, Jerman, dan beberapa rekan lintas universitas lain pada 2011 menerbitkan hasil meta-analisis tentang hubungan antara waktu tidur seseorang dengan kemampuan akademisnya. Hasilnya menyatakan bahwa orang yang bangun siang justru memiliki kekuatan memori, insting kecepatan, dan kemampuan kognitif yang lebih baik.

Neta Ram-Vlasov dari University of Haifa, Israel, pernah meneliti topik yang sama bersama sejumlah rekannya yang lain. Hasil penelitian yang yang diterbitkan tahun 2017 di kanal American Psychological Association itu menyimpulkan bahwa pelaku bangun pagi lebih kreatif. Karolin Roeser dari University of Wuerzburg, Jerman, juga menyatakan kecenderungan serupa.

Orang-orang yang bangun siang lebih terbuka pada pengalaman baru, demikian menurut publikasi ilmiah Christoph Randler dari University of Tübingen dan rekan-rekannya yang dimuat di SAGE Open, Agustus tahun 2017. Pada penelitian lain Randler juga menemukan bahwa pelaku bangun siang lebih punya kemungkinan lebih besar untuk mengeksplorasi pengalaman baru tersebut dibanding pelaku bangun pagi.

Biolog Oxford, Katharina Wullf, menyatakan pada BBC Capital bahwa bangun siang adalah kebiasaan alamiah alias bukan bangun karena alarm. Orang dengan siklus bangun siang cenderung merasa lebih puas sehingga lebih produktif kala bekerja. Tidur mereka terasa cukup, dan kapasitas mentalnya meluas.

Dengan demikian, lanjutnya, memaksa orang yang biasa bangun siang supaya bangun pagi bukan hanya tak mengenakkan bagi pelaku, namun juga punya efek negatif bagi kesehatan organ tubuhnya. Di pagi hari pelaku bangun siang masih memproduksi hormon melatonin (yang diproduksi pelaku bangun pagi di malam hari), sehingga salah satu resikonya adalah menambah berat badan.

Konrad S. Jankowski dari University of Warsaw pernah meneliti hubungan antara waktu tidur manusia dengan perubahan kepuasan hidup. Ia menyimpulkan bahwa para pelaku bangun siang yang mencoba membiasakan bangun pagi ternyata tidak mengalami perubahan suasana hati atau kepuasan hidup.

Masyarakat umum percaya bahwa orang sukses selalu bangun pagi. Kenyataannya, banyak orang sukses bangun siang. Dalam catatan Business Insider, mereka antara lain pendiri aplikasi kelola konten dan layanan berbagi data Box, Aaron Levie, CEO Buzzfeed Jonah Peretti, penulis legendaris James Joyce, dan lain sebagainya.

Jadwal aktivitas manusia modern dipengaruhi oleh penelitian, yang salah satunya pernah dipaparkan Live Science, bahwa jam tidur normal (malam tidur, pagi bangun) bersifat biologis. Artinya, malam memang ditujukan untuk beristirahat. Namun ini tak berlaku pada semua orang. Pelaku bangun siang, yang nyaman dengan kebiasaannya meski bersifat anomali, akhirnya jadi tidak nyaman sebab dipaksa untuk mengikuti ritme orang lain.

Secara biologis pula, badan pelaku bangun siang belum siap untuk beraktivitas. Oleh sebab itu masuk akal jika sejumlah penelitian mengungkap pemaksaan bangun pagi berdampak pada buruknya suasana hati atau turunnya kepuasan hidup. Tidur adalah kenikmatan paling mendasar manusia, dan dianggap sebagai teknik istirahat terbaik. Jika tidur saja tidak puas, maka ketidakpuasan akan berlanjut setelah ia bangun.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada waktu tidur, melainkan durasi dan kualitasnya. Kombinasi terburuk adalah suka begadang, namun juga biasa bangun pagi. Dalam kondisi kurang tidur, yang bersangkutan justru akan tidak produktif sepanjang hari. Jika memang tidur telat, maka wajar jika bangunnya juga telat. Tidak lain demi memenuhi durasi tidur yang cukup.

Para ahli sepakat bahwa utang tidur ternyata tak dapat dilunasi hanya dengan tidur maraton seharian. Sebagaimana dikutip dari Scientific American, tubuh tetap akan membawa efek-efek negatif dari kehilangan jam tidur: otak berkabut, penglihatan memburuk, tak fokus mengemudi, dan sulit mengingat. Obesitas, diabetes, stroke, dan penyakit jantung adalah efek jangka panjangnya.

Siapa yang pernah menyangka bahwa ternyata tidak selamanya mereka yang malas bangun pagi adalah orang yang tidak akan memiliki masa depan yang cemerlang. Malah sebaliknya, justru orang-orang seperti inilah yang banyak memperoleh kesuksesan di dalam hidupnya.

Itulah sebabnya mengapa kita tidak boleh sembarangan menilai orang lain hanya dari keburukannya saja, karena tidak ada yang tahu bagaimana nasib seseorang kedepannya.
Keseringan bangun kesiangan, pada umumnya disebabkan karena seseorang tidur terlalu larut malam, sehingga sulit untuk bangun pagi hari. Nah, menurut penelitian, orang-orang tersebut pada umumnya memiliki kecerdasan lebih tinggi, terutama dalam hal konseptual dan penalaran.

Jadi, kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa mereka yang sukses hanya mereka yang bangun di pagi hari menurut saya tidak relevan. Kecuali bila dikaitkan dengan kesehatan.#

Baca Ini Juga Bro
riyanhero
smile for you

YANG BIKIN LOE MAKIN GAUL

Posting Komentar